Our Blog

You Are Here Home Our Blog
02 Apr
Admin, in Blog 0



“Wah, sorry bro… gua nggak bisa ikut” jawab adik ipar saya via speakerphone ketika saya ajakin jalan-jalan ke luar kota. “Bukannya minggu lue libur?”, istri saya menimpali masih lewat speakerphone. “Iya sih, tapi gua lagi banyak urusan, stress neh”, jawab adik ipar saya lagi. Pernah stress? Mungkin lebih tepatnya—siapa yang tidak pernah stress? Sekuat apapun kita mencoba untuk mencegahnya, sedikit-banyaknya stress itu pasti ada, mungkin hanya kadarnya yang berbeda.

Bagi rekan-rekan yang bekerja kantoran, wah… sepertinya saya tidak perlu tanya lagi, karena saya juga pernah merasakannya. Perubahan manajemen, tidak se-ide dengan rekan kerja, pekerjaan menumpuk dan mendesak semua—bingung mau mulai darimana, ditambah lagi atasan yang hanya mau tahu beres. Wah lengkap sudah. Jika diakumulasikan, kepala bisa meledak… ha ha ha ha….

Ibu-ibu yang tidak bekerja di kantorpun mengalami stress. Jangan salah. Saya sudah merasakan bagaimana repotnya mengurusi anak yang sedang rewel. Belum belanja dapur dengan jatah yang sama dari suami sementara harga-harga naik terus. Habis itu masih harus masak, bersih-bersih rumah. Kalau bapak-bapak pulang dari kantor mendapati nyonya besar di rumah manyun, nah itu tanda-tanda ringan. He he he he…

Oh iya. Saya membuat tulisan ini, tentunya tidak bermaksud untuk menambahkan stress—apalagi di akhir pekan, justru saya ingin berbagi kiat menghadapi stress—dimanapun, oleh sebab apapun. Tentunya kiat ala bapak rumah tangga hehehe… Ya ya.. saya percaya masing-masing orang punya cara sendiri. Nah, mungkin kiat saya bisa menjadi tambahan. Bukan mengajari, tetapi berbagi.

Yang jelas, kita tidak mungkin berharap ada orang lain yang bisa menghilangkan stress yang kita alami. Berikut ini adalah kiat-kiat yang saya terapkan setiap hari—baik dulu ketika saya bekerja untuk orang lain dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, maupun sekarang setelah lebih banyak di rumah:

1. Berhentilah melawan perubahan - Sudah sering kita dengar bahwa “satu-satunya yang tidak berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri”. Orang-orang yang dekat dengan kita berubah [psikis maupun fisik], keluarga, sahabat, teman-teman, bahkan tetangga. Demikian juga di lingkungan kerja: perubahan selalu ada—entah itu untuk mengantisipasi pertumbuhan atau kemerosotan (perubahan kebijakan, perubahan strategi, perubahan manajemen, terparahnya mungkin merjer). Semua itu adalah sumber stress. Berhentilah melawan arus perubahan itu, terima dengan ikhlas, jadilah bagian—kalau perlu agen dari perubahan yang sedang berlangsung. Dengan demikian, maka proses adaptasi akan menjadi lebih mudah. Setelah itu, tinggal bagaimana caranya membuat perubahan itu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain, serta perusahaan jika di lingkungan kantor.

2. Berhenti menganggap diri sebegai orang paling penting - Menganggap diri sebagai orang paling penting, menurut saya adalah salah satu sumber kekecewaan. Apalagi dilingkungan yang kita sendiri tidak memiliki hak kendali apapun. Di kantor misalnya: meskipun anda seorang direktur, berpikir “perusahaan ini tidak akan bertahan lama tanpa aku”, adalah kesalahan besar. Jika ada diantara kita yang tidak bekerja dengan baik hanya karena berpikir perusahaan tidak akan berani mengeluarkan kita, percayalah, suatu saat akan kaget dan kecewa. Fakta sesungguhnya, pemilik perusahaan bisa mengganti posisi siapapun kapanpun mereka mau. Dan perusahaan akan tetap bisa berjalan.

3. Lihat sisi baiknya – ‘Positif-dan-optimis’ tidak hanya akan mengurangi ‘potensi-masalah-menjadi-membesar’, tetapi juga menimbulkan energi positif untuk diri sendiri dan orang sekitar. Di lingkungan kantor atau di rumah misalnya, carilah sisi baik dari setiap pekerjaan yang kita lakukan, dari setiap orang yang kita temui. Niscaya, bukan hanya stress yang berkurang, tetapi anda akan merasa lebih baik, lebih sehat, dan mungkin juga lebih bahagia.

4. Atur waktu dengan disiplin - Salah satu sumber stress adalah adanya benturan perioritas pekerjaan. Kuncinya: bikin jadwal, laksanakan dengan disiplin. Saya sendiri tidak memakai time management canggih-canggih seperti yang diajarkan di business school. Sederhana saja: tentukan beberapa pekerjaan/hal terpenting, jadwalkan dan laksanakan. Hal-hal lainnya tidak perlu dijadwal—biarkan mencari waktunya sendiri. Tentu harus ada kriteria penting-tak-penting, masing-masing orang mungkin berbeda. Bagi saya, sangat sederhana: setiap kali ada hal yang kelihatannya perlu dilakukan, saya tinggal bertanya: (1) jika saya lakukan apakah membuat saya untung? Jika iya berarti penting. (2) Jika tidak saya lakukan apakah membuat saya rugi? Jika iya berarti penting.

5. Belajar bilang cukup [kalau perlu, katakan tidak] - Bisa melakukan sesuatu lebih dari yang orang lain mampu lakukan memang bisa melahirkan kepuasan tersendiri. Tetapi Superman—tokoh pahlawan dalam komik sekalipun memiliki keterbatasan. Nah, ketika sudah banyak hal yang sedang ditangani, jangan terima pekerjaan lain dahulu. Cukup. Jikapun dipaksakan, hasilnya tidak akan optimal. Tunggu sampai pekerjaan yang ada di tangan selesai dengan tuntas dahulu [jika #4 telah dilakukan, maka ini tidak akan masalah].

6. Sederhanakan, perpendek, persingkat - Setiap akan melakukan suatu pekerjaan, saya selalu memulainya dengan berpikir: apakah ada cara untuk membuat proses pekerjaan ini menjadi lebih sederhana, lebih pendek, lebih singkat? Logikanya sederhana: semakin ‘sederhana—pendek—singkat’ suatu proses, kemungkinan menimbulkan salah makin kecil, usaha yang diperlukan juga makin kecil, sehingga potensi stressnyapun menjadi minimal.

7. Bersenang-senang - Iya, kita butuh uang, dan kepuasan bathin yang dihasilkan dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetapi, kita menghabiskan setidaknya tiga-perempat masa dewasa kita dengan bekerja, selama itupula tantangan akan terus datang-dan-pergi silih-berganti. Sehingga, rasanya tidak bijak jika setiap menit dari waktu yang kita lalui diisi dengan hal-hal yang serius melulu. Saya suka becanda dengan anak-anak saya, menonton lawak? Wajib. Hehehehe…

8. Jaga kesehatan – Ini sudah sangat umum. Meskipun sudah tidak seperti dulu, saya masih rutin bergerak, paling tidak lari-lari kecil di sepanjang jalanan di komplek tempat saya tinggal. Kadang main badminton denga anak pertama saya di halaman rumah. Ketika sedang stress, konon tubuh kita akan kehilangan vitamin dan mineral lebih cepat dibandingkan biasanya [diagnose-me.com]. Untuk itu, makanan bergizi menjadi selalu penting.

Jika semua itu saya ubah menjadi kalimat singkat, maka kiat mengelola stress menurut saya hanya dua: (1) Ubahlah segala sesuatu yang bisa anda ubah seperti yang anda inginkan; dan (2) Ketika anda tidak mampu lagi mengubah sesuatu yang memang tidak akan pernah bisa berubah, maka hanya ada satu pilihan yang tersisa, yaitu: ubahlah diri sendiri.
“Stress tidak berasal dari sesuatu yang terjadi pada diri kita. Melainkan dari respon kita terhadap apa yang terjadi. Dan respon adalah sesuatu yang bisa kita tentukan sendiri. (Aslinya: Stress is not what happens to us. It’s our response to what happens. And response is something we can choose)” ~Maureen Killoran.
~Gusti Bob

 

=============================================================================
Note: Diantara semua yang telah saya sebutkan di sini, ada tiga yang sulit—tetapi akhirnya berhasil juga saya laksanakan, yaitu yang #5, 6 dan 8. Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa selalu diperlukan—dalam kondisi apapun. Sumber : Kompasiana.com
[fbshare type="button"]
[related_posts limit="5"]

Comment Closed

 

Add Comment

 
Your email address will not be published.

Recent Post

 

Archives

 

My Site

Terkadang seseorang tak mampu menerima kenyataan, karena dia tak ingin apa yg dia impikan selama ini adalah sebuah kebohongan.

 

Categories

 

Tag Clouds

 

Did you know ?

micheal di lorenzo yg bermain sbg eddi torres dlm serial tv new york undercover adl salah satu penari utama di video clip michael jackson "beat it"