Our Blog

You Are Here Home Our Blog
04 Mar
Admin, in Blog 0

Bangun tidur. Mandi. Rokok. Kopi. Ngetik fiksi. Bikin prosa apa? Bangun pagi. Mandi. Rokok. Kopi. Ngetik fiksi. Tidak ada roti. Bubur ayam-pun boleh deh. Bangun. Ngetik. Ngopi. Ngetik. Sebelahku Niki, dia datang pagi sekali. Aku bilang sama Niki, nggak ngantor hari ini. Semua kerjaan sudah kukirim via email. Niki menemaniku membuat fiksi.

Bangun. Mandi. Niki bikin kopi. Ngetik fiksi. Dia belum mandi, katanya. Hah, jam segini?…buruan sana. Kenapa juga nggak mandi dari rumah? Pinjem handuk. Niki mandi. Aku ngetik. Sambil ngopi. Kenapa juga, nggak mandi dari rumah? Sibuk nih. Bikin prosa apa? Niki Mandi. Pikiranku ada di kampung fiksi. Mana masih ngantuk. Mana masih pagi. Halaaah….muter CD dulu. The Beatles. Ok?….Let it Be.

Ngetik fiksi. Niki masih mandi. Nanti saja kita pergi. Pikiranku ada di kampung fiksi. CD The Beatles. Mana masih pagi. Untung ngantuk sudah pergi. Bikin prosa apa? “Cintaku Merah Jambu”. Setuju? Sementara pikiranku melayang ke kamar mandi. Repotnya punya pacar baru. Sementara pikiranku melayang ke Niki. Cintaku merah jambu. Setuju? Aku bukan prosais, bukan pula penyair, ini masalah adu nyali.

The Beatles. Masih ngetik. Di rumah kontrakan. Cuma aku yang tinggal. Di rumah kontrakan. Makin ngetik. Makin fiksi. The Beatles. Lagu Paperback Writer mengalun. Aku bukan prosais apalagi penyair. Ini masalah adu nyali. Niki selesai mandi. Ini rumah kontrakan. Masih berbalut handuk, ia mengelus rambutku. Badanya basah. Satu percikan air mengenai bahuku. Tunggu…sebaiknya kamu berganti baju! Aku sibuk nih. Ngetik fiksi.

Kamu Paperback Writer.Buat apa bikin prosa? Niki menggoda. Masih pakai handuk. Mengelus rambutku. Sebaiknya pakai baju. Ini rumah kontrakan. Buat apa pakai baju? Niki tetap menggoda. Ya ampun. Mana bisa jadi fiksi kalau begini. Mana mungkin masuk kampung fiksi kalau begini. Tolong ya, ini adu nyali bukan ajang birahi. Aku sibuk nih. Badannya basah. Satu ciuman mengenai keningku.

Ya ampun. Ini rumah kontrakan. Mana bisa ngetik kalau begini. Rokok. Kopi. Mana masih pagi. Buat apa pakai baju. Dia mengeringkan rambutnya. Masih pakai handuk. She love you yeah..yeah..yeah, The Beatles masih asik menyanyi. Ya ampun. Matahari mulai tinggi. Masih ngetik. Dua paragraf. Penuh titik. Cintaku merah jambu. Angin sesekali datang. Musim apa ini?

Aku sibuk mengetik. Dua belas jari. Dua paragraf, penuh titik. Angin sesekali datang. Tolong ya. Beri aku sedikit fantasi. Mana mungkin. Masuk kampung fiksi. Tanpa khayal tanpa ilusi. Matahari mulai tinggi. Angin sesekali datang mengeringkan rambut Niki. Musim apa ini. Kok hari ini dia cantik sekali? Siluet tubuhnya kulihat sesekali. Ini dia fantasi. Menyambung empat paragraf berikutnya. Tolong ya. Kamu berdiri di situ saja.

Musim apa ini? Kok Niki manja sekali. Hari ini. Kamu berdiri di situ saja. Bukannya apa. Aku cuma perlu fantasi. Sedikit lagi beres. Dan kita bisa pergi. Mumpung aku nggak ngantor. Mumpung kamu cantik sekali. Sedikit lagi beres. Dua belas jari. Jam dua belas. Sedikit lagi beres. Dan kita bisa pergi. Niki manja bagai gulali. Enggak kok aku nggak ingin pergi, ia berbisik sambil tersenyum. Aku cuma ingin menemani kamu. Boleh dong sekali-sekali. Dia masih manja. Seperti gulali. Dia membuatkan kopi untuk-ku. Ini cangkir yang kedua. Musim apa ini? Jangan-jangan musim jambu. Merahnya sampai di sini. Tebar Pesona. (putik bunga jambu berguguran, sehelai-sehelai melintasi jendela, tebar pesona)

Niki masih manja. Sehelai putik bunga. Tiba-tiba hinggap di lengannya. Dia cuma ingin menemani aku. Let it Be. The Beatles.Menyahut. Aku ikutan manja, ah. Tebar pesona. Boleh dong sekali-sekali! Dia membuatkan kopi. Ini cangkir kedua. Repotnya punya pacar baru. Manja seperti gulali. Sedikit lagi beres. Prosa cintaku merah jambu. Niki duduk disampingku. Membaca judulnya. Dia cekikikan. Geli. Handuknya hampir terjatuh. Aku tersipu…ehm. Bukannya apa. Aku cuma perlu fantasi.Ehm…Aku tersipu.

Dia duduk disampingku. Ehm….Dia geli. Fantasi apa ini, ini true story. Membaca judulnya, handuknya hampir terjatuh. Putik bunga jambu. Masih di lengannya. Fantasi apa ini? Ini sih reportasi kolaborasi. Dia geli, tangannya memeluk pinggangku. Giliran aku yang geli. Badanku meliuk mirip gulali. Tolong ya, aku lagi nulis. Jangan belanja tuh tangan. Kalau aku beli, gimana?

Dua belas jari tak mampu menyudahi. Ending tulisan. Melayang di cakrawala. Kolaborasi berhenti sampai di sini. Tangannya memeluk pinggangku. Aku menoleh. Wajahnya imut-imut dadu. Duh, betapa merah jambu hari ini. Duh, kenapa pula kau ada hari ini. Aku tersesat antara fiksi dan true story. Aku menoleh. Wajahnya imut-imut dadu. Duh, Niki. Gara-gara kamu. Ending tulisan . Melayang di cakrawala. Dia masih duduk disampingku. Kini matanya menatapku. Pipinya sungguh merah jambu. Duh repotnya punya pacar baru, sebentar lagi aku bikin beres. Ini bukan fiksi. Endingnya sebentar lagi kusudahi.

Cakrawala penuh tanda tanya. Siapa dia, siapa aku. Apa cinta, apa nafsu. Duh, kenapa pula kau ada hari ini. Sungguh aku tersesat. Sungguh pipinya makin dekat. Tunggu. Aku matikan lap top-ku dulu. Tunggu. Aku matikan rokok dulu. Dia masih duduk di sampingku, namun kini aku yang memeluknya. Cakrawala penuh tanda tanya. Aku tersesat. Kini aku yang memeluknya. Handuknya terjatuh. Tanda tanya. Dari jauh . Dari kampung fiksi. Terdengar sayup suara. Let it be. (putik bunga jambu berguguran, sehelai-sehelai melintasi jendela, tebar pesona) Oh, let it be.

Comment Closed

 

Add Comment

 
Your email address will not be published.

Recent Post

 

Archives

 

My Site

Apa yang hilang darimu, relakanlah. Jangan mengeluh. Percayalah Tuhan telah menyediakan yang lebih baik.

 

Categories

 

Tag Clouds

 

Did you know ?

Lagu kebangsaan negara Liechenstein, yaitu "Oben am jungen Rhein" mempunyani nada yang sama persis dengan lagu kebangsaan Inggris, "God Save the Queen".