Our Blog

You Are Here Home Our Blog
05 Apr
Admin, in Blog 0



Saat kita jatuh cinta, semua menjadi buta. Terlintas obsesi yang ditunggangi setan untuk bisa mendapatkan cinta. Layaknya panggung politik yang menghalalkan segala cara,politik dalam bercinta pun mengenal istilah accountability measures can’t be justified of love.

Ya begitulah tindakanku ketika aku mengenal dia sebagai sosok gadis idamanku. Pikiran dalam otaku hanya bagaimana caraku untuk mendapatkan dia. Mungkin ini yang disebut cinta buta (lagunya armada). Meskipun aku tahu ini akan berujung di rasa sakit, pikiranku berkata “ini bukan sebuah halangan, tapi ini adalah tantangan untukku”.

Dalam pikiranku yang sudah di rasuki oleh obsesi setan,segalanya menjadi mungkin. Dan semakin(lagunya d”massive) besar cintaku,sampai aku kadang tak bisa mengendalikan rasaku ketika berada di dekatnya. Dengan body language ,aku secara tidak langsung sudah menyatakan cinta ke dia. Bodoh sekali aku….Diapun menyadari,merasa ada sesuatu yang aneh pada diriku. Aneh dikandung arti berperilaku lebih daripada seorang teman,dan itu sudah di tanyakan secara eksplisit padaku. Tapi ku jawab “Takdir adalah misteri” saja, karena aku kondisi dan keadaan yang ada saat ini. Hanya merendahkan aku sebagai calon imam yang akan membawa makmum anggota keluargaku nantinya.

Meskipun aku tidak melakukan tindakan eksploitasi yang secara langsung merenggangkan hubungan yang ada, tp dengan jalan aku memperkenalkan diri,memberikan perhatian yang lebih dari pada seorang teman, selalu meluangkan waktu buat dia. Aku merasa sudah berdosa dengan diriku sendiri. Memang,tidak sedikit kawan bilang ke aku ”hentikan”.
Tapi justru keadaan seperti itu membuat aku berpikir. Apakah perhatianku tidak akan semakin merusak konsentrasinya?

Semakin hari semakin sering bertemu semakin dekat dan akhirnya semakin banyak ku tahu tentang dia. Suatu saat dengan isak tangis dia bercerita tentang masalahnya, dapat ku tangkap substansi permasalahannya. Obsesi setan pun muncul kembali melihat sebuah celah yang ada. Tapi ternyata hatiku tak setega pikiranku, kecerdasan spritualku masih bisa mengalahkan kecerdasan obsesi setan dalam diriku sendiri. Aku tidak tega melihat dia selalu dirundung duka. Setiap hari menangis karena masalahnnya. Tidak munafik,tanpa melihat determinasi sendi norma dan etika, aku mengharapkan hal ini membuka jalanku bersmanya. Tapi secara alami saja, tidak ada keterlibatanku di dalam konflik internnya.

Rasional, Tulus, Ikhlas… Ya,aku harus bisa bertahan pada pendirian rasioanalku meskipun predisiposisi hipotesis,namun berpegang pada filosofis yang baik. Aku ikrarkan diri untuk tidak akan terhanyut di emosi. Terlepas dari rasa sakit hati teriris yang pasti aku rasakan, segera ku aktifkan rasionalku untuk terus bergerak mendominasi penguasaan diriku sehingga terhindar dari obsesi setan. Memang ada perang bathin hingga chaos yang merusak dan laten bisa meruntuhkan niat tulus ikhlasku, tapi itulah esensi dari sebuah pengorbanan untuk cintaku. Bisa merubah emosi negatif menjadi sebuah potensi energy yang positif adalah tantangan tersendiri buatku. Ujian terberat dalam hidupku,perang melawan diri sendiri lebih bergengsi daripada aku berperan sebagai seorang pecundang yang menjadi benalu. Sedikit unrealistis pada jaman pragmatis seperti sekarang ini,menyembunyikan tangis di balik senyuman.

Niat awalku yang terobsesi pikiran setan, akan saya ubah menjadi seorang figure yang menghibur sahabatnya ketika tertimpa masalah. Niat dalam hatiku sudah berbeda,dari seorang yang memberikan perhatian dengan maksud mempromosikan diri beralih menjadi seorang teman yang memberikan solusi.
Meskipun menyimpan harapan dan merasa di beri harapan,tapi aku siap untuk kecewa. Aku akan ikhlas menerima kenyataan melihat dia bahagia bukan dengan aku, meskipun aku yakin aku lebih bisa membahagiakan dia daripada siapapun (Narsis dikit boleh dumz…hehehehe). Dan secara normatif,kesedihan yang bersembunyi di balik senyuman. Aku memberikan solusi obyektif atas masalahnya. Terlepas sebagai pemujanya, aku berperan sebagai sharing partner yang bisa memisahkan antara opini rasional-ku dan pendapat hatiku. Aku tak khawatir di sebut munafik atau hipotesis,yang pasti aku yakin tindakanku berada pada statuta etika yang benar. Berdoa akan selalu kupanjatkan, ikhtiar bukan berarti eksploitasi diri dengan membenarkan segala cara dan keberhasilan adalah suatu anugrah sang kuasa. Jodoh di tangan Tuhan….I believe it..!!!

Sumber tulisan = http://kompasiana.com

[fbshare type="button"]

[related_posts limit="5"]

Comment Closed

 

Add Comment

 
Your email address will not be published.

Recent Post

 

Archives

 

My Site

Jika seseorang telah yakin dan berserah sepenuhnya akan kebesaran Tuhan, maka Tuhan akan membimbing kehidupannya.

 

Categories

 

Tag Clouds

 

Did you know ?

meskipun Hawaii di Amerika Serikat digelari sebagai The Aloha State, kota Aloha terdapat di negara bagian Washington, Louisiana, Michigan, dan Oregon?