Our Blog

You Are Here Home Our Blog
06 Apr
Admin, in Blog 0



Suami saya adalah seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami. Ketika saya bersandar di bahunya yang bidang, muncul perasaan hangat di hati saya. Tiga tahun kami berkenalan, dan kemudian menikah. Kini usia pernikahan kami menginjak dua tahun. Meski masih "muda" namun saya harus mengakui bahwa saya mulai merasa lelah. Hal-hal yang dulu menjadi alasan untuk mencintainya kini berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil. Saya benar-benar sensitif dan memiliki perasaan halus tentunya. Saya memutuskan untuk tidak bekerja dan total menjadi ibu rumah tangga. Sebagai wanita sentimentil, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepadanya : saya menginginkan perceraian. "Mengapa ?", tanya suami saya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya. Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya. Seolah-olah ia sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah. Suami saya bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya! Apalagi yang bisa saya harapkan darinya ?.

Akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiran kamu ?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan mengubah pikiran saya : 'Seandainya saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung' maukah kau memetikkan untukku padahal kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati'?".

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok". Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya di bawah sebuah gelas tempat menaruh susu kesukaan saya. "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Namun saya melanjutkan untuk membacanya. "Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal. Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami. Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu".

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian saya. Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari yang bisa saya lakukan. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu".

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya. "Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu. Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

[fbshare type="button"]

[related_posts limit="5"]

Comment Closed

 

Add Comment

 
Your email address will not be published.

Recent Post

 

Archives

 

My Site

Sahabat adalah mereka yg tak pernah menghakimimu. Mereka yg tahu kisah hidupmu, karena mereka membantumu menulisnya.

 

Categories

 

Tag Clouds

 

Did you know ?

Orangutan merupakan salah satu jenis kera modern karena memiliki rasa empati dan mimik wajah, yang merupakan bagian dari tertawa terbahak-bahak. Mirip seperti manusia.